by WS. Rendra

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku, bahwa: sesungguhnya
ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Allah
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,

tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali
oleh-Nya?

Ketika diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah
derita.

Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas,

dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika:
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku,dan nikmat
dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk
beribadah…

“ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

Iklan

” Film berat yang patut ditonton oleh kalangan Pesantren” komentar saya begitu selesai nonton film ” Perempuan Berkalung Surban”.Saya berharap akan ada banyak lagi yang secara terbuka (seperti yang ditontonkan dalam film tersebut) mengkritik dengan tujuan membangun ke arah yang lebih baik dalam menanamkan pemahaman nilai nilai islam di dalam pesantren.

Benar kalau ada yang berkata, perlu nonton dua kali untuk dapat memahami misi film ini. Mengapa? Ya, bagi kita yang sudah terbiasa menerima pemahaman dengan pakem turun temurun yang tanpa kita sadari membelenggu dinamisme kehidupan kita…. mungkin akan sedikit panik atau gusar dengan kevulgaran film ini dalam mempertontonkan cara pengajaran para ustadz di pesantren.

Disuguhkan dalam film tersebut bagaimana cara para guru di pesantren yang demikian statis dalam menyampaikan ayat ayat Allah dari generasi ke generasi , membelenggu kebebasan berpikir para santri. Mungkin sebagai salah satu akibat dari perbaikan gizi , sehingga gen yang mempengaruhi otak santri zaman kini menjadi lebih baik dari nenek buyutnya, dan terekspresi pada semakin kritisnya dalam berpikir. Cara memberikan pemahaman ayat ayat Qalam Ilahi yang sebenarnya demikian penuh kasih sayang, penuh memperhatikan secara detail dalam hal keseimbangan dan kesetaraan atas segala ciptaanNya di bumi ini, disampaikan secara picik dan statis, serba dalam koridor ketakutan akan neraka dengan apinya yang menyala nyala dan hitungan pahala yg harus rajin kita kumpulkan untuk meraih SurgaNya.

Ada dua kemungkinan mengapa para ustadz ini cara penyampaiannya statis, sesuai pakem ajaran turun temurun. Yang pertama, karena beliau takut kualat pada Ustadznya dan masuk neraka kalau beliau tidak mengamalkan ilmunya dengan cara yang sama dengan Ustadznya. Karena dalil dalil yang didoktrinkan oleh Ustadznya mengenai santri yang tidak patuh pada guru keras dan menakutkan. Wal hasil para santri yang tunduk manthuk pada Ustadz, memilih jalan surga yang aman dalam menyampaikan ajaran Muhammad saw, ketika dirinya menjadi Ustadz. Ditambah lagi, kemungkinan ke dua, budaya enggan menggali wawasan dari sumber sumber yg lebih luas selain yang didapatkan dari pesantren, menjadikan penyebab pula statisnya metode pengajaran di pesantren. Sehingga mereka memilih gampangnya saja, yaitu mencontoh plek ajaran ustadz pendahulunya. Hal ini kalau mau jujur, masih banyak dilakukan oleh pesantren pesantren tradisional yang merasa ilmu yang disampaikannya sudah sempurna, tidak perlu membuka pengetahuannya dengan menengok ke dunia luar yang semakin komplek urusan keduniaannya.

Para Ustadz itu seharusnya menyadari bahwa mereka adalah sumber awal penyampai ajaran agama Islam. Tidak sesederhana yang dibayangkan bahwa mereka hanyalah para pengajar ilmu Agama islam di pesantren. Para lulusan pesantren akan mengamalkan ilmunya keluar pesantren.

Hal ini yang selalu saya pikirkan. Dapat dipastikan mereka akan menyampaikan ajaran islam dengan cara persis sama dengan yang telah di dapatnya dari pesantrennya. Dari sini, mulai timbul pemahaman pemahaman yang sangat bergantung pada siapa ustadz yang menyiarkan dakwahnya, dan dari pesantren mana asal ustadz tersebut menimba ilmu? Tanpa disadari, bagai jaringan bisnis MLM, ajaran tersebut terus berkembang. Bagi yang patuh dan statis cara berpikirnya akan menjadi orang yang fanatik pada ajaran ustadznya.

Bagi mereka para santri yang otaknya pandai dan cenderung kritis dalam berusaha memahami ajaran agamanya, sering kali “dipasung” kebebasannya dengan dalil dalil agama yang berkesan dimanfaatkan oleh para guru di Pesantren sebagai jalan pintas untuk memotong “kekurang sopanan” santrinya, atau untuk menutupi kekurang siapannya menjawab pertanyaan pandai dari santri yang pandai? Budaya “one way teaching ” seringkali membuat sesak dada santri yang penasaran hatinya sering tidak dapat dikomunikasikan, guna lebih meyakinkan dirinya tentang kesempurnaan agamanya sebagai panduan hidup menuju kebahagiaan dunia akhirat. Kemacetan komunikasi ini merupakan bom waktu yang berdampak macam macam, berbeda bagi setiap pribadi. Bersyukur bagi yang benar benar pandai dalam mencari jalan alternative di luar pesantren dalam usahanya mengenal Allah, sehingga menjadi pribadi yang kaffah dalam menjalani kehidupannya sebagai khalifah Allah.

Yang memprihatinkan, adalah mereka yang melampiaskan kekesalannya atas keterbelengguannya dengan mengatasnamakan” Sorban ” selama di pesantren, lalu bertindak “bodoh” di luar pesantren dengan mengatasnamakan ” kebebasan”.

Belum lagi, yang sedang jadi keprihatinan luas akhir akhir ini, yakni ulah para lulusan lulusan pesantren yang ber IQ tinggi dan berhasil menimba ilmu di dunia bebas. Mereka kembali ke tanah kelahiran tempat mereka nyantri dulu, dengan mempresentasikan ilmu keislamannya dari sisi pemahaman yang sebebas bebasnya. Seolah ingin menunjukkan dendam keterpasungan otaknya kepada intitusi pesantren dimana dia mendapatkan ijazah sebagai pakar agama islam. Pesantren tidak punya kekuasaan lagi membendung kebablasan mereka.

Saudara saudaraku seiman yang ku cintai, belum ada kata terlambat untuk memperbaiki selama kita ikhlas dan segera mawas diri, dilanjut dengan memperbaiki diri dalam menerima segala kritikan yang merupakan masukan baik buat kita, sepahit apapun dan dengan cara apapun disampaikannya.

Dari pada sibuk membela diri yang sebenarnya kalau mau jujur, sebenarnya hanya ingin menutupi kekurangan diri, sehingga makin jauh kita dari sempurna, lebih baik menyikapi positif segala masukan dengan semangat tanggung jawab atas pilihan hidup kita (sebagai guru penyampai siar Islam), dengan cara mempersiapkan diri menjadi guru yang siap menjawab segala pertanyaan , keraguan hati muridnya ketika belajar memahami Qalam Ilahi, sehingga ketika sang murid yg di kader siap terjun ke masyarakat untuk mengamalkan ilmu keislamannya, juga akan menjadi ustadz yang hebat, yang mampu menyampaikan keindahan dan kesempurnaan agama Islam dalam menuntun manusia berperikehidupan di dunia, menuju kebahagiaan dunia akhirat.

Mari kita bahu membahu berusaha melepaskan “Sorban” yang hanya membuat kita terbelenggu dalam kegerahan! Berhentilah memperalat Sorban, menutupi kekurangan diri dengan cara bersembunyi di balik Sorban.

Mari menggali lebih luas lagi mencari makna yang tersirat dalam kitab yang Maha sempurna dan detail dalam menuntun hidup kita, Al Qur,an . Yakinlah, bila kita kaji dengan benar, Al Qur’an dan Hadist pasti dapat menjawab dengan tanpa ragu , segala tantangan kehidupan kita, menuju kebahagiaan dunia akhirat.

*movie review by: Ani Husni*

AW2,

Dear ALAHADIANS,

NEMBE KEMAWON KAWULO NINGALI POSTINGANIPUN KANGMAS SURYO ALAM WONTEN BLOG KITO ALAHADFAMILY, INGKANG DIPUN PARINGI JUDUL “Hanya ada 3 hari dalam hidup ini….”. MUGI SEDOYO SAMPUN MIRSANI UGI. 3 DINTEN SAWAU RUPINIPUN : PAST, PRESENT, FUTURE……….. PESENIPUN KANGMAS SURYO, SELAMAT MERENUNG, TAPI JANGAN BINGUNG…

(INDON : Baru saja saya melihat postingan-nya Bapak Suryo Alam di blog kita ALAHADFAMILY, yang diberi judul “HANYA ADA 3 HARI DALAM HIDUP INI….”. Semoga semua sudah melihatnya pula. 3 hari itu ternyata : past, present, future. Pesannya Bapak Suryo, Selamat merenung, tapi jangan bingung….)

KAWULO LAJENG NINGALI TANGGAPAN SAKING MBAKAYU ANI HS WONTEN POSTINGAN SAWAU, INGKANG KAGUNGAN USUL MAKATEN : Usul, kalo ga’ ada acara ngaji siapa saja yang punya topik bagus seperti tulisan di atas ini (RED : MAKSUDIPUN, TOPIK BAGUS KADOS TULISANIPUN KANGMAS SURYO ALAM SAWAU), di posting ke Blog. Semua diharapkan membaca, menyimak, then dibahas bareng yang rame gitu?!).

(INDON :  Saya lalu melihat tanggapan dari Ibu Ani Hs di posting-an tersebut, yang mengusulkan…. dst).

 

INGGIH AMARGI KAWULO KEPENGIN NGATURAKAN SHARING KEMAWON, PRAMILO KAWULO LAJENG NDAMEL POSTINGAN PUNIKO. BOTEN MANGERTOS, PUNOPO PUNIKO TOPIK BAGUS PUNOPO BOTEN

(INDON : Ya karena saya ingin menyampaikan sharing saja, maka saya lalu membuat posting-an ini. Tidak tahu, apakah ini topik bagus apa tidak)

 

ATUR KAWULO PUNIKO INGGIH BAB TAFSIR AL QUR’AN – BOSO JAWI, INGKANG DIPUN PARINGI JUDUL AL IBRIZ. KITAB TAFSIR SAWAU DIPUN SUSUN DENING MBAH KYAHI BISYRI MUSTHOFA – REMBANG, INGGIH RAMANIPUN KYAHI MUSTHOFA BISYRI INGKANG KITO KENAL KYAHI PENYAIR PUNIKO.

(INDON : Yang saya sampaikan ini mengenai kitab tafsir Al Qur’an – Bahasa Jawa, yang berjudul Al Ibriz. Kitab tafsir ini disusun oleh Kyai Bisyri Musthofa-dari Rembang, yaitu Ayahanda dari Kyai Musthofa Bisyri yang kita kenal sebagai kyai penyair)

(Uda cape blum mmbca bhasa Jwa? Trusin Bhasa Jawa ato Indon sj? Sy si inginnya pake Bhasa Jw sj, tp nti yg bc jd cape. Ya ud, sy truske pakai bhs indonesia aj y —< Lha, kalau yang ini bahasa chattingnya versi Saqy Candy Kiddo. Baiklah, saya lanjutkan ya).

 

MENGERTI UNTUK MEMAHAMI DENGAN TAFSIR AL IBRIZ

Saya cerita dulu pengalaman saya. Bertahun-tahun membaca Al Qur’an, meski tidak sebanyak Bu Dedi bacanya, namun pemahaman yang saya peroleh saya pikir sangatlah sedikit. Membaca terjemahannya untuk meningkatkan pemahaman? Saya coba membaca terjemahan bahasa Indonesia versi Depag. Lagi-lagi, tidak terlalu banyak dan sering sih, tapi memang tetap cukup sulit untuk sampai kepada makna. Ya makna. Pak Djasman pernah cerita, ketika kecil belajar di surau mengenai makna Al Qur’an, metoda pemahaman yang saat ini semakin jarang dipraktekkan. Dalam metodologi pembelajaran juga disebutkan bahwa dengan membaca paling jauh kita hanya akan mencapai tingkat pengertian, yang nilainya 10% saja dari pemahaman. Untuk memahami, kita harus melaksanakannya (implementasi), yang akan men-jack-up pemahaman sampai 80-90%. Nah, saya ingin membaca yang sedemikian sehingga dapat membawa ke pengertian yang lebih dari 10% pemahaman, meski belum sampai ke 80-90% tersebut. Saya pikir-pikir, lalu saya ketik di google : tafsir Al Qur’an bahasa Jawa. Ternyata Mbah Google memberi petunjuk ke saya sampai ke AL IBRIZ tersebut.

Kalau tidak salah, arti AL IBRIZ adalah penjelas. Mungkin maksudnya dengan membaca Al Ibriz maka orang akan mendapatkan penjelasan secara gamblang mengenai Al Qur’an.

 

HURUF ARAB PEGON : MEMBERI MAKNA YANG LEBIH MERESAP

Saya membeli AL Ibriz di Bantul, pada Lebaran 2 tahun yang lalu. Sampai saat ini membacanya baru sampai Juz 4, kalau tidak malah kurang. Di bagian pengantarnya, Mbah Bisri menyampaikan bahwa tafsir ini menggunakan referensi kitab-kitab tafsir standar, misalnya Tafsir Jalalain dan Tafsir Ibn Katsir. Penyampaiannya menggunakan bahasa Jawa, namun ditulis dalam huruf Arab, bahkan tidak memakai harakat. Namanya apa, saya lupa ( Bu Irien bilang, Arab Pego, Arab Pegon!!!). Ya Arab Pegon. Karena saya tidak terbiasa dari kecil membaca jenis tulisan ini maka sudah pastilah terjadi hal-hal berikut : sulit membacanya, lambat benar bacanya, pegel dan kaku di lidah. Namun ajaibnya, menimbulkan situasi sedemikian sehingga :

– membaca lambat ternyata memberikan kesempatan otak kanan dan kiri berinteraksi sehingga tercapai keseimbangan antara pengertian pikir dan pemahaman di hati (kali ye..)

– membaca “grothal grathul” huruf Arab yang ternyata “berbunyi” Jawa, sungguh menimbulkan suasana aneh, takjub, ajaib, sampai dengan lucu dan geli

– banyak kata yang dipakai, menimbulkan penafsiran yang memberi makna lebih dari arti katanya

– terasa lebih meresap

 

SURAT AL KAFIRUN

Untuk memberikan gambaran yang maknawi, berikut ditampilkan Surat Al Kafirun yang diberikan tafsirannya sebagai di bawah ini :

al-ibriz-al-kafirun-arab

 

Berikut adalah tafsir Mbah Bisyri untuk Al Kafirun :

al-ibriz-al-kafirun-jawa

 

Siapa nggak bisa membacanya? Saya coba membaca tafsir tersebut, dan selesai dalam waktu 4 menit. Saya sudah pernah TEST Gus Ibrahim membaca Al Ibriz ini, dan ternyata kecepatannya kalau dikalibrasikan untuk membaca tafsir Al Kafirun tersebut kira-kira akan selesai dalam 20 detik. Mungkin kalau percobaan dilakukan kepada Mbakayu-nya Gus Ibrahim, akan selesai dalam 18 detik, plus minus 20%. Wheleh-wheleh….

Huruf Arab Pegon tersebut kalau dibaca akan berbunyi sebagai berikut :

SURAH AL KAFIRUN

IKU SURAH MAKKIYYAH. AYATE ONO NENEM ( Itu Surat Makkiyyah. Ayatnya ada enam)

SAK GOLONGAN SAKING WONG-WONG KAFIR MATUR MARANG KANJENG NABI ( Segolongan dari orang-orang kafir MATUR – nah ini dia!!! – kepada Nabi)

YA MUHAMMAD – SAW ! AYO SAIKI PODHO RUKUNAN BAE : SALIROMU NYEMBAH SESEMBAHAN KITO SETAHUN, KITO NYEMBAH SESEMBAHAN IRO SETAHUN ( Ya Muhammad – SAW, ayo sekarang kita pada rukun saja : kamu menyembah tuhan kami setahun, kami menyembah Tuhan mu setahun)

JALARAN PENGUCAPE SAK GOLONGAN SAKING WONG-WONG MUSYRIK IKU, SURAH IKI TUMURUN KANG SURASANE : DHAWUHA MUHAMMAD – SAW ! HEY WONG-WONG KAFIR ! SAIKI INGSUN ORA MUNGKIN NYEMBAH SESEMBAHAN IRO KABEH, LAN UGO IRO KABEH ORA MUNGKIN NYEMBAH SESEMBAHAN INGSUN (Karena ucapan segolongan orang-orang musyrik itu, surat ini turun yang maksudnya : Katakanlah Muhammad-saw! Hai orang-orang kafir ! Sekarang saya tdiak mungkin menyembah tuhan mu semua, dan juga kamu semua tidak mungkin menyembah Tuhan saya).

 

LAN MENGKO UTOWO SESUK, UTOWO EMBEN, INGSUN ORA BAKAL NYEMBAH SESEMBAHAN IRO KABEH, LAN SIRO KABEH UGO ORA BAKAL NYEMBAH SESEMBAHAN INGSUN (Dan nanti atau besok, atau besok jauh nanti, saya tidak akan menyembah tuhan kamu semua, dan kamu semua juga tidak akan menyembah Tuhan saya).

 

SYIRIK IRO KABEH NAMUNG KANGGO SIRO DHEWE, ISLAM INGSUN KANGGO INGSUN DHEWE ( Syirik kamu sekalian / semua untuk kamu sendiri, Islam saya untuk saya sendiri )

 

Yang menarik saya adalah keterangan yang disampaikan oleh siapa saya lupa (he-he…), yang mengatakan bahwa tafsir Al Ibriz yang menggunakan bahasa  daerah ini mampu menunjukkan rasa tertentu dalam komunikasi. Misalnya penggunaan kata MATUR (pada tafsir ayat 1 Surat Al Kafirun tersebut) yang digunakan oleh Mbah Bisyri untuk menggambarkan orang-orang kafir yang BERBICARA kepada Rasulullah saw. Kata MATUR menunjukkan bahwa :

– orang kafir yang sangat benci kepada Rasulullah saw tersebut ternyata bersikap SEGAN kepada Rasulullah saw, sehingga berbicara dengan cara sedemikian sehingga harus digambarkan sikap dan kata-kata yang diucapkannya dengan memakai kata MATUR  

– apa lagi?

Nah, siapa yang sudah membaca posting-an ini, mohon membantu saya untuk memahami makna Surat Al Kafirun melalui tafsiran Al Ibriz tersebut di atas, seperti pesan dari Mbakayu Ani Hs agar semua memberikan tanggapan dan pendapatnya. Sehingga meskipun kita semua tidak mengaji di malam Ahad, namun silaturahmi dan diskusi tetap berjalan.

Saya tunggu tanggapannya, please click Tanggapan, tulis sebanyak-banyaknya….

Ayo semua, yang merasa jagoan membaca Arab Pegon, yang membaca “grothal grathul” sehingga lidah jadi pegel, yang mendapat makna tertentu dari tafsiran tersebut, WAJIB POSTING. Click TANGGAPAN  di bawah ini dan susun kata dan kalimat yang panjang lebar.

Matur nuwun, terimakasih,

W3

mps

Hanya ada 3 hari dalam hidup ini….

Yang pertama: Hari kemarin. (PAST)

Anda tak bisa mengubah apa pun yang telah terjadi.
Anda tak bisa menarik perkataan yang telah terucapkan.
Anda tak mungkin lagi menghapus kesalahan; dan mengulangi kegembiraan yang anda rasakan kemarin. Biarkan hari kemarin lewat; lepaskan saja…

Yang kedua: Hari esok. (FUTURE)

Hingga mentari esok hari terbit, Anda tak tahu apa yang akan terjadi. Anda tak bisa melakukan apa-apa esok hari. Anda tak mungkin sedih atau ceria di esok hari. Esok hari belum tiba; biarkan saja…

Yang tersisa kini hanyalah : Hari ini. (PRESENT)

Pintu masa lalu telah tertutup; Pintu masa depan pun belum tiba. Pusatkan saja diri anda untuk hari ini. Anda dapat mengerjakan lebih banyak hal hari ini; bila anda mampu memaafkan hari kemarin dan melepaskan ketakutan akan esok hari. Hiduplah hari ini. Karena, masa lalu dan masa depan hanyalah permainan pikiran yang rumit. Hiduplah apa adanya. Karena yang ada hanyalah hari ini; hari ini yang abadi.

Perlakukan setiap orang dengan kebaikan hati dan rasa hormat, meski mereka berlaku buruk pada anda. Cintailah seseorang sepenuh hati hari ini, karena mungkin besok cerita sudah berganti. Ingatlah bahwa anda menunjukkan penghargaan pada orang lain bukan karena siapa mereka, tetapi karena siapakah diri anda sendiri

Jadi teman, jangan biarkan masa lalu mengekangmu atau masa depan membuatmu bingung, lakukan yang terbaik HARI INI dan lakukan SEKARANG juga!!!!!!

The day will come when you will review your life and be thankful for every minute of it. Every hurt, every sorrow, every joy, every celebration, every moment of your life will be a treasure. This is why today is called a PRESENT alias HADIAH

No no no …

Bagiku hari Kemaren penting untuk introspeksi
Tidak ada hari Ini kalau tidak ada hari Kemaren, apa yang saya capai hari Ini adalah hasil kerja hari Kemaren.
Adanya hari Kemaren membuat aku bisa lebih baik hari Ini, atau gara-gara hari Kemaren saya memanen apapun yang terjadi hari Ini.

Tapi hari Ini memang hebat, Present, Hadiah, saya bisa mengubah agar yang terjadi hari Kemaren di hari Ini bisa tampak lain.

Tapi sebenarnya saya lebih focus kepada hari Esok.
Siapkan segala sesuatu hari Ini untuk hari Esok.
Mimpi atau Harapan untuk hari Esok dapat mempengaruhi apa yang kita kerjakan hari Ini.

Jadi,

Bertawakallah dan beristighfarlah atas hari Kemaren
Bersyukurlah dan Nikmatilah atas hari Ini
Berdo’alah dan berusahalah untuk hari Esok

Selamat merenung, tapi jangan bingung.

  1. Kumpulkan BUKTI-BUKTI keimanan dan takwa
  2. Gunakan Al-Qur’an dan Hadist sebagai STANDAR dan KRITERIA dalam penyusunan laporan
  3. Lakukan (STOCK) OPNAME dosa dan kesalahan
  4. TRASIR rekapitulasi kesalahan dan dosa-dosa
  5. POSTING shodaqoh, infaq, amal jariyah, dan zakat
  6. Siapkan dan buatlah REKONSILIASI silaturahim dengan sahabat dan kerabat
  7. Lakukan ELIMINASI perbuatan maksiat
  8. Susun Laporan KONSOLIDASI dosa dan pahala.
  9. Waspadai adanya SUBSEQUEN EVENT atas menipisnya ke-Islaman dan ke-Imanan setelah tanggal pelaporan
  10. Jika terdapat FINDING segera komunikasikan kepada YA ROBBANA
  11. Lakukan taubatan nasuha agar rapor ke-Imanan WAJAR TANPA PENGECUALIAN
  12. Segera lakukan prosedur tersebut diatas sebelum DEAD LINE usia tiba
  13. Untuk kesempurnaan laporan, buat DISCLOSURE atas kesalahan dan dosa kita sesama saudara/sahabat/ rekan/ dll

Penjelasan kamus Akuntan

  1. BUKTI-BUKTI; suatu alat yang digunakan oleh akuntan dalam menyusun laporan; Bukti eksternal lebih kuat daripada bukti Internal, Bukti ASLI lebih kuat dari pada bukti foto copian; Jadi Instropeksi yang berupa kritik / masukan / dll yang bukan dari diri sendiri lebih VALID dan obyektif
  2. STANDAR dan KRITERIA; Dalam melakukan audit, akuntan harus memiliki standar dan kriteria sebelum tugas dilaksanakan agar penilaian dapat dilakukan, jika salah kenapa salah standarnya apa, begitu kira-kira
  3. STOCK OPNAME / CASH OPNAME, OPNAME; suatu prosedur yang harus dilakukan dengan menghitung langsung keadaan fisik sebelum dilihat catatan-nya
  4. TRASIR; salah satu cara menelusuri asal-usul agar bisa didapat kepastian
  5. POSTING; proses membukukan aktivitas
  6. REKONSILIASI; dilakukan untuk mencocokan / mengakurkan angka-angka yang dilaporkan dari beberapa sumber
  7. ELIMINASI; salah satu metode yang dilakukan untuk seleksi
  8. KONSOLIDASI; jika perusahaan/ instansi memiliki banyak cabang; atau memiliki beberapa anak perusahaan maka dibuat laporan konsolidasi, disatukan agar tampak keseluruhannya
  9. SUBSEQUEN EVENT; kejadian yang terjadi setelah laporan dibuat; misal laporan selesai hari ini tgl 7/11; maka kita harus tetap mewaspadai dan mengikuti kejadian-kejadian setelah tanggal tersebut paling tidak 3 bulan atau 6 bulan kedepan, begitu seterusnya
  10. FINDING; Temuan-temuan selama proses pemeriksaan; biasanya berdasarkan Finding inilah dibuat rekomendasi perbaikannya dan saran-saran untuk periode yang akan datang; salah satu alat ukur prestasi Pemeriksa  adalah dari Finding yang didapatnya
  11. WAJAR TANPA PENGECUALIAN; ada 4 jenis laporan

    1. Tertinggi Wajar Tanpa Pengecualian
    2. No2 Wajar DENGAN Pengecualian
    3. No3 TIDAK WAJAR
    4. Terjelek Menolak Memberikan pendapat atas laporan yang diperiksa
  12. DEATH LINE; Harus ada death line, kita kan bakal mati
  13. DISCLOSURE; Dalam laporan ada yang Full Disclosure ada juga yang perlu-perlu saja yang di-disclose.

Oleh: Suryo Alam

Membaca kisah kisah perjalanan haji seorang dokter, saya jadi terkenang kembali kisah perjalanan haji kami, yang diawali dengan tanpa rencana yang matang, artinya tidak direncanakan beberapa tahun sebelumnya, hanya beberapa bulan sebelumnya.

Saya hanya berangan angan, kapan ya saya diberi kesempatan pergi haji seperti teman teman saya di AlAhad. Berapa tahun lagi ya tabungan saya cukup untuk bisa pergi haji berdua? Wah, paling pas pergi haji kalo bertepatan dengan libur sekolah, batin saya. Saya mengajar di Sekolah Jepang, kalo ambil cuti 40 hari apakah diijinkan ya? (selama ini belum ada pengalaman yg ambil cuti naik haji). Kemudian iseng saya melihat kalender untuk mengetahui kapan Bulan haji yang bertepatan dengan liburan kenaikan kelas. Lho?! kok ternyata tahun ini? Waduh! untuk dapat kesempatan seperti ini lagi harus nunggu berapa tahun lagi? Ngga ada kesempatan lain kecuali harus tahun ini berangkat, begitu dalam hati saya. Saya langsung gerak cepat menghitung segala tabungan. Saya tanya suami saya, kalo kalo dia punya tabungan. Alhamdulillah, ada sekian juta (saya lupa). Saya tambah dengan tabungan saya, total 42 juta. Yaa…kurang banyak! Karena kebetulan waktu itu biaya haji melonjak dratis, perorang biayanya 27 juta. Pupuslah harapan! Tapi hati tetap berharap, seandainya saja bisa pergi tahun ini ya? ngga repot dengan urusan cuti deh!. Tapi ya sudahlah, mustahil menutupi kekurangan sebanyak itu. Saya ga’ mau pergi sendirian.

Allah Maha mengetahui keinginan bulat saya. Biaya haji berhasil ditekan oleh pemerintah, jadi 42 juta berapa ratus ribu rupiah untuk 2 orang! Subhanallah! Langsung saya hampiri suami saya dengan membawa berita baik tersebut. Tapi dengan tenang suami saya menjawab “pergi sendiri aja deh, kalo pergi berdua, apa yang kita tinggalkan untuk anak anak?”. Diam diam saya tetap mendaftar untuk 2 orang.Dan atas ijin Allah, kami bisa pergi berdua. Alhamdulillah!. Anak anak urusan Allah, demikian aku meyakinkan suamiku.

Yang ingin saya ceritakan dari semua perjalanan tersebut, adalah betapa kasih sayang Allah kepada saya, sehingga pengalaman ketika menjalani ibadah haji tersebut, benar benar menjadikan titik balik bagi perjalan hidup saya. Subhanallah! Allah memberi sesuai dengan niat saya. Saya yang dikenal oleh Ibra (dkk?), sebagai aliran islam liberal, memang ya begitulah, prinsip saya, saya ingin menjalani hidup ini sesuai dengan tuntunan agama saya. Dan saya yakin agama saya yang berpedoman pada Al Qur’an dan hadist pasti dapat menjawab segala pertanyaan yg bergejolak dihati (karena sungguh , hati ini paling suka iseng, mencari cari cari pertanyaan yg ga’ penting shg mudah dipengaruhi oleh para syaithon yang dengan setia pula menanti nanti saat ini diseputaran hati).

Pedoman pokok kehidupan saya terdapat di dalam rukun islam dan rukun iman. Rukun iman berkaitan dengan keimanan. Masalah iman adalah urusan keyakinan hati terhadap 6 hal pokok yang dihrskan untuk meyakininya. Untuk mencapai suatu keyakinan yang istiqomah/ konsistens dari waktu ke waktu , saya berusaha mengamalkan rukun islam sebagai penuntun dan pengatur hidup saya. Nah, inilah dasarnya kenapa saya ingin segera ikutan naik haji seperti teman teman yang sudah pergi. Secara syariat,saya sudah menjalankan 4 rukun islam yang diharuskan. Rukun yang ke lima, alangkah sempurnanya saya dalam menjalani kehidupan ini seandainya saya diberi kesempatan dan kemampuan oleh Allah untuk menjalaninya.
Alhamdulillah Allah berkenan memberikan kesempatan kepada kami untuk menimba ilmu berkehidupan RumahNya. Subhanallah wal hamdulillah walailaha Ilallah hu Allahhuakbar!

Kilas balik bila saya mengingat secara detail segala pelajaran berkehidupan secara Habbluminallah dan Habbluminnas yang ditunjukkan Allah kepada para tamunya yang beraneka ragam, baik dalam bentuk ritual yang sebenarnya lebih sebagai simbol simbol atau perumpamaan yang sarat dengan filosofi sebagai tuntunan dan pembekalan dalam melakukan perilaku kehidupan yang penuh keberuntungan ,di dunia dan akhirat, ketika sudah lulus dan kembali menjalani kehidupan sebagai mahluk sosial. DitunjukkaNya pula kejadian kejadian, yang bila kita dapat mengambil hikmah serta memaknainya dengan mawas diri,insyaAllah ketika Allah berkenan menyematkan gelar Haji , pasti kita menjadi pribadi yang lebih terfokus dalam memupuk rukun iman kita, serta mengamalkan rukun islam kita dengan komplit dalam berkehidupan sosial. Demikianlah keyakinan saya. Dan saya yakin akan bahagia lahir dan batin bila saya bisa konsisten dengan keyakinan saya ini.

Kisah kasih Haji? Ya… saya tidak bosan bosan mengingat dan menceritakan hal ini pada siapa saja pada setiap kesempatan. Pada kesempatan inipun! jangan bosen ya?! karena bagi saya, dengan cara inilah rupanya Allah ingin meyakinkan saya, don’t worry, Ani! what ever they say, Aku (Allah) yang Maha tahu…. ya..istilahnya gitu kali ya?.Masalah apa ini?

Begitulah saudara saudaraku sebangsa dan setanah air, secara ,siapapun yang mengenal pasangan Husni dan Ani, tidak dapat dipungkiri, komentarnya pasti, Husni itu sabar banget n cenderung manthuk manthuk saja menghadapi istrinya yang cenderung dominan, suka senewen (ga’ sabar banget), cerewet, sakkarepe dewe…wis ruwet cemruwet deh image Ani ini. Semua dihadapi Husni dengan senyum dan ok! ok! saja. Begitulah kenyataan yang disimpulkan umum, para saudara, kerabat, dan teman teman tercinta, bahkan anak anak saya . Ya, sudah! ga’ ada ruang lagi bagi saya untuk membela diri, karena memang demikianlah kasat matanya. Sedih hatiku!

Pun ketika semua kerabat dan sobat membekali saya dengan guyonan” awas aja nanti dibalas lho disana !”. Saya hanya bisa tersenyum sambil bercanda juga menanggapi guyonan itu, tetapi di dalam hati saya mohon ampun pada Allah, Ya Allah, sungguh tak ingin hamba membela diri, hamba memohon ampunanMu. Hanya Engkau yang Maha mengetahui setiap isi hati. Karenanya saya bertanya pada Allah, apakah benar ya Allah bahwa saya ini memang seperti penilaian mereka? dan adakah suami hamba sebenarnya tidak ikhlas dengan kelakuan hamba terhadapnya?Benarkah suami hamba lemah hatinya?. Dan…………Allah berkenan menjawab semua keraguan saya terhadap perilaku diri saya sendiri pada saat saya punya waktu berduaan sepanjang waktu selama tigapuluh dua hari.

Saya baru menyadarinya ketika sudah dinyatakan lulus sebagai Hajjah, oleh Allah SWT. Setelah saya kilas balik selama tigapuluh dua hari di Tanah Haram bersama suamiku yang mas Husni itu, saya jadi heran terhadap diri saya sendiri. Tidak ada selisih paham sedikitpun diantara kami ! Saya, demikian nurut manut lan patuh pada apapun yang dituntunkan pada saya. Bahkan yang saya heran, saya tahu betul mas Husni tidak punya persiapan ilmu yang mumpuni karena manasiknya hanya digeber dalam waktu 1 minggu, dari pukul 9 malam s/d 12 malam oleh bu H. Kadir. Lo kok mau nuntun saya? Itu ga’ masuk dalam logika saya. Yang ada , biasanya Anilah yang akan ngajari mas Husni. Kenyataannya, mulai dari sejak Tawaf Qudum hingga Tawaf Tawaf berikutnya, saya selalu dipandu dan disetir total oleh dia. Saya nurut saja seperti orang yang ga’ punya ilmu. Bahkan ketika melempar Jamroh, setelah saya dilindunginya ketika melempar duluan, setelah selesai seharusnya saya memeluk dia dari belakang agar tidak terpisah. Tetapi, ketika dia bilang ” Udah, tunggu aja di belakang sana, cari tempat yang aman”. Saya “Heeh” saja, tanpa berpikir bahwa dibelakang sana adalah lautan manusia yang berseragam putih kabeh. Wal hasil?! Saya hanya menunggunya, tanpa terbersit bahwa rombongan sedang mencari cari saya. Saya baru ngeh kalo saya dalam kondisi hilang, ketika saya melihat mas Husni dari kejauhan sedang berkeliling berlari dengan wajah penuh kecemasan, mengibar ngibarkan bendera rombongan Pondok Aren. Saya panggil dia “Maaasss….!” selanjutnya seperti film india gitu deh!. Mengesankan! yang ada hanya bahagianya dia menemukan kembali istri yang dicintainya . Diantara kamipun tidak ada pembahasan yang saling mencari kebenaran diri.

Asli, demikianlah, tigapuluh dua hari yang penuh kedamaian, kecintaan, saling ingin memberikan yang terbaik, saling menjaga seolah masing masing takut kehilangan…wow! indahnya!.

Memori kejadian demi kejadian ketika di tanah suci saya putar ulang . saya mencoba mencari hikmah pelajaran dibalik itu semua, adakah kiranya peringatan atau petunjuk Allah di dalamnya? Subhannallah! Ya, saya paham! Allah menjawab keraguan hati saya terhadap perilaku saya pada suami. Alhamdulillah! Allah benar benar Maha kasih sayang. Allah begitu welas asih pada saya yang Allah tahu benar kesedihan saya dengan segala penilaian yg bernada minor terhadap saya. Kemudian ditunjukkan oleh Allah secara gamblang bahwa begini kira kira kalo diwujudkan dalam kata: ” Wis to Nik, bersyukurlah kamu, karena banyak orang memperhatikan tingkah lakumu pada suamimu, itu jadikanlah sebagai evaluasi diri sehingga akan kamu buktikan bahwa kamu tidaklah seperti yang mereka bayangkan. Kalau kamu menjadi makmum yang baik bagi suamimu seperti saat ini (saat berhaji), semuanya jadi indah dan nikmat khan?”

Segala puja dan puji penuh syukur kuucapkan tiada henti henti Kepada Allah sang pengasih penyayang atas kenikamatan luar biasa ini. Allah menunjukkan betapa cinta dan kasihnya mas Husni kepadaku, dan ternyata aku juga bisa menjadi istri yang hormat, patuh, ora kakehan nuntut. Diantara kami yang saya rasakan adalah rasa saling takut kehilangan, sehingga saling jaga dan melindungi serta memperhatikan. Pelajaran nglakoni urip wong loro dari gusti Allah ini, selalu membayangi kehidupan saya selanjutnya.
Saya sangat menyadari, merubah image itu ternyata sangat ga’ gampang sekali!

Ya, hanya mas Husni yang dapat merasakannya, hidup bersama saya setelah menjadi bu Hajjah Ani. Adapun image orang lain terhadap saya, saya terima dengan “hehe ..” yang kemudian akan segera saya respon kedalam diri agar terus berusaha sehingga akhirnya semua sepakat mengatakan “Subhanallah! sungguh Ani itu istri yang idaman bagi suaminya, ibu teladan bagi anak anaknya, anak yang sholihah bagi orangtuanya dan teman yang baik bagi lingkungannya” Amiiin! Semoga Allah berkenan mentakdirkannya.

Dan , ketika image itu telah terpateri di masing masing hati siapapun yang pernah bertemu,bergaul ataupun hidup dengan saya, bahagialah saya berperikehidupan di dunia. Dan ketika itu , aku akan semakin merindukan perjumpaanku dengan yang selalu mengasihi dan menyayangiku dan memanjakanku dengan cara mengabulkan yang kuinginkan dan baik menurutNya, walau tak jarang saya merajuk. Engkaulah kecintaanku ya Robb, Engkaulah kerinduanku! Semoga Engkau berkenan selalu menjaga rasa cinta dan rindu ini.Amiiinnn.

Satu hal lagi yang saya inginkan ketika saya memperolah giliran panggilanMu, saat itu hamba sedang bahagia melihat anak anak hamba menjalani hidupnya dengan penuh kecintaan pada jalan penuh Ridlo yang Engkau tunjukkan, yaitu jalannya orang orang yang sholeh dan sholihah, yang kaffah dalam mengamalkan agamanya, Islam. Ya Robb, semoga Engkau berkenan mengabulkanNYa, Amiin.

AL AHAD SELABINTANA MARCH 2007

AL AHAD SELABINTANA MARCH 2007